Senin, 19 Desember 2016

Peduli Kelestarian Sungai

Lestarikan Sungai


Peradaban dunia banyak di bangun dari peradaban sungai. Begitu pentingnya sungai sebagai patner dalam membangun peradaban, maka peradaban yang mahsyur adalah yang berkomitmen dan kosisten dalam menjaga, menggunakan dan memanfaatkan sungai sebagai sarana kehidupan. Bagaimana sungai menyediakan kebutuhan air dalam kesehariantermasuk mandi, mencuci dan untuk mengairi perkebunan dan pertanian.


Meskipun aktivitas peradaban di sungai seperti mandi, mencuci dan mengambil air minum telah banyak ditinggalkan, namun di sisi hilir sungai ini masih banyak aktivitas yang mengambil manfaat dari sungai, bahkan menjadi sumber mata pencaharian. Beberapa bendungan juga dibangun di beberapa titik untuk mengambil manfaat air sungai mengairi lahan-lahan pertanian dan perkebunan. Untuk itu, sudah selayaknya kelestarian ekosistem sungai tetap menjadi perhatian warga masyarakat terlebih pemerintah.

Dari kegiatan survei yang kami lakukan bersama teman-teman, ditemukan banyak sumber pencemar yang ditemui. Salah satunya adalah limbah anorganik (lambat terurai) yang dibuang secara kolektif di beberapa titik bantaran sungai hingga tumpah jatuh ke sungai, bahkan tidak sedikit limbah yang dibuang secara langsung ke badan sungai. Bentuk limbah anorganik yang ditemukan dalam jumlah banyak diantaranya adalah kantong plastik, pecahan kaca (beling), botol kaca maupun plastik, popok bayi (pampers) dan stereoform (gabus sintetik).



Kurangnya kesadaran warga masyarakat yang membuang limbah anorganik ke sungai ini bisa menimbulkan dampak buruk bagi ekosistem sungai. Limbah ini dalam proses penguraianya yang berlangsung sangat lambat (bisa ratusan tahun) dapat menjadi racun yang membunuh habitat hidup seperti ikan dan udang. Karenanya dapat pula menimbulkan pendangkalan sungai dan mengganggu warga yang masih beraktivitas di sungai. Sebagai contoh di daerah hilir Sungai Tayu, para nelayan sering mengeluhkan sampah yang mengganggu baling-baling kapal. Yang jelas kondisi limbah yang menumpuk di tepian ataupun di badan sungai merusak estetika / keindahan yang berpengaruh pada kondisi psikologis bagi siapapun yang memandangnya.
  


Masalah atas kondisi ekosistem sungai ini tidaklah cukup hanya dibicarakan saja, sudah selayaknya generasi muda banyak belajar tentang manajemen sungai agar potensi sungai yang jumlahnya ribuan di negara ini agar tidak terbuang percuma dan hanya menjadi masalah saja ketika musim hujan dan kemarau. Untuk itulah perlu dibuat kegiatan dengan tujuan yang bukan hanya seremonial belaka, tetapi juga berusaha merangkul berbagai komunitas komponen masyarakat termasuk para seniman dan budayawan, tokoh masyarakat dan pemerintah daerah setempat.







Salam Lestari!